00.20, di Rennes, Perancis
“Assalamualaikum! Belum tidur?” Terbaca tulisan teman saya yang tinggal di Indonesia di dalam kotak chat di layar komputer jinjing saya.
Saya menjawab “Barusan pulang Tarawih”.
Teman yang berada di Indonesia dan tinggal tinggal di daerah waktu bagian Barat (BBWI) langsung menimpali “Lha, saya baru balik dari mesjid untuk shalat Subuh”.
“Ya jelas! Perancis dan Indonesia beda waktunya 5 jam di musim panas. Kalau di Indonesia sudah menjelang pagi, di Perancis masih tengah malam” jawabku.
Kita berdua langsung menuliskan kode-kode tertawa di kotak chat.
Aku langsung menambahkan “Di awal Ramadhan tahun ini (1422 H/ 2011 M), shalat Isyanya jatuh pada jam 23.10. Jadi bisa dipastikan dan kamu bisa kira-kira, jam berapa shalat Tarawih akan berakhir!”
========================
Dialog di atas merupakan pembicaraan singkat saya dengan teman saya di Indonesia tentang suasana bulan Ramadhan di Perancis khususnya kota Rennes. Sepertinya teman saya ingin mengetahui suasana bulan Ramadhan yang pada tahun 2011 ini berada di musim panas.
Ramadhan dan musim panas
Bulan yang paling mulia diantara 12 bulan selama setahun adalah bulan Ramadhan. Pada bulan yang mulia ini seluruh umat Islam diwajibkan berpuasa. Pada bulan ini juga diturunkannya kitab suci umat Islam yaitu Al.Qur’an. Berbagai macam ganjaran amalan dan magfirah ada di bulan ini. Dan berbagai macam kejadian istimewa pada sejarah umat Islam terjadi di bulan ini.
Pada tahun 2011 Masehi atau 1432 Hijriah, Ramadhan di Perancis jatuh pada musim panas. Dari pengumuman resmi, bulan Ramadhan dimulai pada tanggal 1 Agustus 2011. Musim panas di Perancis sendiri dimulai pada tanggal 21 Juni dan berakhir tanggal 20 September. Dan diantara 4 musim, memang musim panaslah dimana suhu hariannya lebih tinggi dibandingkan 3 musim yang lain.
Ketika pertama kali akan memasuki bulan Ramadhan tahun 2011 ini ada sedikit ketakukan tentang keadaan cuaca kesangggupan berpuasa. Dimana pada musim panas dengan suhu yang cukup tinggi, siang yang waktunya lebih panjang dibandingkan malam, saya mempunyai pikiran apakah sanggup melaksanakan puasa di saat ini.
Tempat shalat
Saya adalah termasuk mahasiswa muslim yang beruntung dikarenakan asrama tempat saya tinggal dekat dengan dua tempat shalat. Yang pertama, merupakan pusat kebudayaan Islam yang jaraknya sekitar 150 meter dan yang kedua berupa ruangan shalat yang jaraknya sekitar 400 m. Yang pertama tentunya lebih besar yang mempunyai bangunan sendiri yang mungkin bisa dikatakan mesjid sedangkan yang kedua hanya merupakan ruangan tempat shalat yang berada di lantai dasar sebuah gedung apartemen. Dan di kedua tempat itu, ada shalat berjamaah lima waktu dan shalat jumat.
Pada bulan Ramadhan tahun lalu, di kedua tempat ini ada diadakan buka puasa bersama dan shalat tarawih berjamaah.
Berbuka Puasa
Saya melewati lapangan yang dilapisi batu paving bernama Place de Kennedy. Di satu sisi lapangan ini ada tempat pemberhentian terakhir metro (kereta bawah tanah) kota Rennes. Di sisi kiri-kanan lapangan ini ada supermarket, beberapa toko, perpustakaan umum dan kantor-kantor pemerintah terutama yang berafiliasi dengan dinas sosial. Di sekitar lapangan ini ada juga tempat parkir di bawah tanah dan lapangan bermain untuk anak-anak.
Ketika melewati lapangan ini, jam tangan saya menujukkan pukul 21.30. Di lapangan tersebut sudah tidak ada orang. Dalam hati saya mengatakan “Pantas sepi dan ngak ada orang, beberapa saat lagi bakal tengah malam, tentu orang-orang telah berada di tempat tinggalnya masing-masing untuk beristirahat”. Dan waktu bekerja telah berakhir beberapa jam sebelumnya atau sekitar jam 18.00-19.00. Walaupun demikian, karena pada saat ini adalah musim panas, cahaya matahari masih ada alias keadaan masih terang-benderang. Di sisi lain, umat muslim belum bisa berbuka puasa karena waktu berbuka puasa baru akan dilaksanakan pada pukul 21.45.
Saya sempat berpapasan dengan beberapa orang yang barusan keluar dari stasiun metro walau mungkin jumlahnya tidak sebanyak dibandingkan pada jam-jam kerja. Walaupun sebenarnya pada saat itu adalah sore hari menjelang Magrib, sudah tidak ada lagi orang-orang yang duduk atau berkumpul di tempat itu.
Dari lapangan ini saya sudah dapat melihat gedung berlantai 4, tempat ruangan shalat yang saya tuju. Letak gedung itu antara lapangan/place Kennedy dengan rue (jalan) Nivermais. Pada gedung tersebut, di bagian bawah tanahnya terdapat kantor Gendarmerie National (polisi daerah). Tempat sholatnya sendiri berada di lantai dasar gedung dan di lantai-lantai selanjutnya adalah apartemen-apartemen.
Begitu masuk ruangan shalat baru terasa suasana keislaman dan berpuasanya. Besar ruangan shalat tersebut sekitar 10 x 9 meter. Dilapisi karpet bermotif dengan warna dominan hijau. Ada tempat berwudhu kecil, toilet dan dapur yang semuanya serba kecil. Di tempat dilaksanakan shalat 5 waktu secara berjamaah dan shalat Jum’at. Tidak ada tempat shalat untuk jemaah wanita tetapi setiap hari Sabtu antara shalat Dhuhur sampai Ashar, ruangan sholat ini dipakai sebagai tempat pendidikan untuk jamaah wanita.
Pada saat itu, ada beberapa orang yang sedang melaksanakan shalat sunat di ruangan sholat tersebut. Di bagian belakang ruangan, ada beberapa orang yang sedang membaca Al-Qur’an. Ada juga orang-orang yang sedang berdzikir menunggu waktu berbuka. Ada seorang petugas yang berjalan diantara orang-orang, membawa tampan yang berisi kurma dan menawarkannya kepada orang-orang. Orang-orang tentu akan mengambil secukupnya, antara 1 sampai 3 biji. Di sebelah pintu masuk sudah ada meja yang di atasnya tersedia beberapa hidangan untuk makan malam.
Tepat pada waktu yang sudah ditentukan, dikumandangkan azan Magrib. Saya memakan kurma yang telah dibagikan ke saya. Orang-orang di sekitar saya juga melakukan hal yang sama. Ada juga yang mengambil gelas plastik dan botol air mineral untuk keperluan minum. Dan selama azan Magrib dikumandangkan, ada petugas yang kembali berjalan di antara orang-orang dengan membawa piring untuk mengumpulkan biji kurma dari para jamaah.
Begitu selesai azan Magrib, semua jamaah berdiri dan mengatur shaf untuk melaksanakan shalat Magrib. Sekilas saya lihat, ada juga beberapa orang masih ada yang minum atau makan kurma di dekat meja tempat makanan tersedia. Yang pastinya setelah azan Magrib, shalat Magrib langsung dilaksanakan tanpa ada shalat sunat Rawatib.
Setelah shalat Magrib, beberapa jamaah ada yang berzikir, berdoa dan langsung pulang. Ada juga yang melaksanakan shalat sunat Rawatib. Tak berapa lama kemudian, beberapa orang mengambil meja bulat yang kakinya bisa dilipat. Sekitar tiga atau empat meja yang dikeluarkan dan dipasang di dalam ruangan shalat. Dan di atas meja tersebutlah diletakkan makanan untuk makan malam.
Makan malam yang dihidangkan biasanya berupa sup Al-Harirah, roti tawar, roti dadar, beberapa gorengan, telur rebus dan kurma. Terkadang juga di sediakan Qus-qus. Makanan-makanan yang dihidangkan tentunya bernuansa Magrebien atau Afrika Utara. Untuk minuman selain air mineral, juga dihidangkan kopi, kopi susu, susu dan jus buah.
Pada saat menikmati makan malam, saya bertanya pada teman mahasiswa yang kebetulan melakukan percobaan untuk disertasi Doktoralnya di laboratorium dengan saya dan berasal dari salah satu negara di Afrika Utara tentang shalat Tarawih di ruang shalat ini. Dia menginformasikan, untuk tahun ini tidak ada shalat Tarawih di tempat itu. Shalat Tarawih dipindah ke sebuah mesjid yang sedang dalam pembangunan dan letaknya dekat dengan laboratorium kami. Dan teman saya itu berjanji mengajak saya untuk shalat Tarawih di sana.
Setelah makan malam selesai, para jamaah secara bergotong-royong membersihkan sisa makanan di atas meja, membereskan meja, melipat meja dan mengembalikan ke tempat penumpukan meja. Ada yang bertugas mencuci piring dan membersihkan karpet dengan penyedot debu.
Rennes dan berbagai hal
Rennes adalah sebuah kota di bagian barat Perancis. Kota ini merupakan ibukota dari région Bretagne (region = setingkat propinsi di Indonesia, red) sekaligus ibukota dari departemen Ile et Vilaine (departemen = setingkat kabupaten di Indonesia, red). Untuk mencapai kota ini , hanya diperlukan waktu 2 jam dengan kereta api cepat (TGV) dari Paris.
Di kota yang berpenduduk sekitar 450 ribu orang ini, ada beberapa tempat shalat yang berada di beberapa lokasi. Ada yang hanya berupa ruangan yang dijadikan tempat shalat dan ada pula bangunan yang memang difungsikan sebagai mesjid atau pusat kebudayaan Islam. Salah satunya adalah yang ada di sebuah bangunan yang dekat dengan lapangan/place JF Kennedy.
Rennes yang berada di region Bretagne dimana region ini sebagian besar dibatasi oleh lautan-lautan besar seperti selat Manche/selat Inggris di bagian utara dan lautan Atlantik dibagian barat dan selatan region ini yang membuat iklim di daerah ini sangat dipengaruhi oleh iklim laut. Akibatnya pada musim panas suhu tidak begitu panas karena angin dari kedua laut sering membawa hujan dan pada musim dingin, salju juga jarang turun.
Temperatur yang bersahabat
Salah satu yang membuat berdebar-debar sebelum memasuki Ramadhan tahun ini yang juga berada di musim panas adalah temperatur. Di musim panas, tentu temperatur akan lebih tinggi dari tiga musim lainnya. Kalau di Indonesia, mungkin suhu sepanjang tahun sekitar 27-28 °C per tahun karena letaknya berada di daerah khatulistiwa. Tetapi untuk wilayah Eropa yang letaknya di daerah sub tropis, pada musim dingin, temperatur bisa turun sampai di bawah nol dan musim panas temperatur bisa di atas 27-28 °C, bahkan untuk Rennes sendiri bisa di atas 30 °C.
Dikarenakan temperatur musim panas yang tinggi, masalah dehidrasi adalah hal yang ditakuti. Dengan waktu siang yang panjang, matahari yang bersinar terik dan suhu yang tinggi, tentu tubuh akan kehilangan banyak cairan kalau tidak ada suplay cairan yang masuk. Dengan kata lain, cairan yang keluar dari tubuh lebih banyak dari yang masuk.
Tetapi Allah menurunkan pertolongannya untuk Ramadhan tahun. Berkaitan dengan temperatur di Rennes dan wilayah Bretagne yang dipengaruhi laut yang menyebabkan musim panas tidak terlalu panas sehingga selama 10 hari pertama puasa, suhu berkisar antara 10 – 26 °C atau suhu yang masih sejuk di badan termasuk untuk ukuran orang dari daerah tropis seperti saya. Bahkan ada hari dimana suhu berkisar 8 sampai 19 derajat Celcius.
Sedangkan kalau dilihat dari keadaan cuaca, sepuluh hari pertama dilalui sebagian besar dengan suasana cerah berawan, walau dominan berawannya. Ada beberapa hari yang mengalami disiram hujan. Biasanya pada musim panas hujan jarang turun. Dan kalau pada hari dengan matahari bersinar terang, tetap saja matahari tidak bersinar terik.
Jika saya baca untuk prakiraaan cuaca antara tengah sampai akhir Ramadhan melalui beberapa situs internet, suhu masih berkisar antara 12-26 °C dan keadaan cuaca adalah cerah berawan. Walau dikodekan dengan adanya gambar matahari tetapi selalu ada gambar awan yang menutup bahkan di beberapa hari awannya berwarna kelabu dengan tetes-tetes rintik hujan. Alhamdulillah, ini menguntungkan bagi yang berpuasa karena bisa berpuasa dalam keadaan sejuk.
Di lain pihak sebenarnya ini hal yang tidak mengutungkan bagi para pekerja di sektor wisata yang lokasinya banyak di piggir pantai. Dengan cuaca yang rada kelabu dan suhu cenderung dingin, tentunya tidak banyak pengunjug yang datang ke daerah pantai. Padahal daerah Bretagne mempunyai banyak daerah wisata pantai. Di sini terlihat, pada sebuah keadaan, di satu sisi menguntungkan sebagian pihak, tetapi di pihak lain tidak menguntungkan. Saya tidak mengatakan ini merugikan karena bisa saja Allah memberi hikmah dibalik semua kejadian ini.
Beberapa teman-teman Perancis yang banyak perhatian ke bidang iklim/klimatologi mengatakan ini akibat perubahan iklim global. Cuaca dan iklim bisa berubah tanpa bisa diprediksi dan tidak sesuai dengan fenomena yang sudah dikaji sebelumnya. Dalam keadaan normal, biasanya di musim panas suhu tentunya akan lebih tinggi dari musim-musim yang lain dan matahari akan bersinar terang. Tetapi saat musim panas yang bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun ini, suhunya tidak terlalu panas dan matahari bersinar tetapi tidak terlalu cerah serta ditutupi awan malah ada rintik-rintik hujan sehingga sudah mirip musim semi atau gugur. Di satu pihak, sebagai orang yang melaksanakan puasa tentu nyaman berpuasa dalam keadaan yang sejuk tetapi di sisi lain juga perlu ada perhatian dengan perubahan iklim global yang tidak menentu ini.
Waktu berpuasa dan shalat Tarawih
Dilihat dari jadwal berpuasa Ramadhan yang dibagikan oleh tempat shalat di dekat asrama saya, untuk kota Rennes, di hari-hari pertama puasa Ramadhan, shalat subuh jatuh pada jam 05.15. Ini akan terus berubah sampai akhir Ramadhan menjadi jam 06.03. Sementara waktu shalat Magrib berada pada pukul sekitar 21.45 dan di akhir Ramadhan ada pada pukul 20.56. Jadi pada tahun ini, puasa Ramadhan di kota Rennes berlangsung sekitar 15 sampai 16,5 jam.
Selain adanya acara berbuka puasa bersama di hampir setiap tempat ibadah di Rennes, shalat Tarawih berjamaah juga diadakan di beberapa tempat ibadah. Di salah satu ruangan shalat kota Rennes yang tak jauh dari asrama tempat saya tinggal yaitu di place JF Kennedy, buka puasa bersama dan shalat Magrib tetap diadakan. Tetapi mulai tahun 2011 ini shalat Isya dan shalat Tarawih dipindahkan ke sebuah masjid yang sedang dalam pembangunan yang berada di Route de Vezin, sekitar 2,5 km dari Place JF Kennedy.
Karena masih dalam proses pembangunan, fasilitas-fasilitas pendukung belum berapa lengkap seperti belum ada kran air di tempat berwudhu sehingga air diambil dari kran yang ada di luar ruangan berwudhu. Ketika pertama kali datang ke tempat sholat tersebut dengan diantar oleh teman dari salah satu negara Afrika Utara yang juga merupakan teman satu lab saya, saya baru tahu kalau tempat itu ngak jauh dari tempat percobaan saya yaitu di dekat kantor Penelitian dan Pengembangan Pertanian region Bretagne. Letaknya di jalan besar kota Rennes dan beberapa jalur transportasi bus melewati tempat tersebut walau di malam hari tentunya sudah tidak ada lagi jalur angkutan yang melewati tempat shalat itu.
Tempat shalatnya sebenarnya berupa rumah, tetapi karena pada saat shalat Tarawih jumlah jemaahnya sangat banyak, dipakai aula di bagian belakang rumah untuk menampung jamaah laki-laki. Sedangkan jemaah wanita di ruang shalat utama. Walaupun demikian, pengeras suara hanya diarahkan ke bagian dalam aula sehingga tidak ada suara ke luar yang bisa saja mengganggu penghuni rumah-rumah di sekitarnya yang mungkin bukan beragama muslim. Di balik masih sederhananya tempat ini, kemauan saling tolong menolong antar sesama orang muslim tidaklah luntur. Ada suatu waktu ketika saya mengikuti shalat Tarawih, pagurus tempat shalat mengumumkan kalau ada beberapa jamaah dari sebuah kota di Spanyol yang singgah di mesjid itu untuk mengumpulkan dana pembangunan mesjid mereka dan pengurus meminta jamaaah mendermakan harta mereka seikhlasnya setelah shalat Tarawih berakhir. Dan memang setelah salat Tarawih berakhir, banyak jamaah yang menyumbangkan uang mereka kepada rombongan jamaah dari Spanyol itu.
Pada tahun 2011 ini dimana bulan Ramadhan jatuh pada musim panas, untuk shalat Isya di sepuluh hari pertama Ramadhan, dimulai setelah pukul 23.00. Pada hari pertama Ramadhan di Rennes, shalat Isya dimulai jam 23.11. Dan jam mulai shalat Isya akan terus maju sehingga di akhir Ramadhan shalat Isya dimulai sekitar jam 22.10.
Di antara selang waktu antara shalat Magrib dan Isya, jemaah masjid melakukan aktifitasnya masing-masing. Ada yang membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdiskusi masalah agama dan kegiatan berguna lainnya. Dua puluh menit sebelum shalat Isya di malam sabtu atau minggu terkadang ada ceramah dalam bahasa Arab dan Perancis. Terkadang juga antara shalat Tarawih dan Witir juga ada ceramah beberapa menit. Tetapi ceramah ini tidak dilakukan di malam-malam yang esok harinya adalah hari kerja. Pengurus mesjid mengantisipasi supaya jamaah tidak pulang terlalu malam dan berkurang istirahatnya sehingga kurang produktifitasnya pada saat bekerja di siang harinya. Jadi sebuah toleransi yang unik antar seluruh komponen umat. Umat bisa menunaikan ibadah malam bulan Ramadhan tetapi dia juga efektif dan produktif bekerja di siang hari.
Untuk pelaksanaan shalat Isya dan Tarawih di sepuluh hari pertama dimana shalat Isya dimulai sudah lebih dari jam 23.00, setelah adzan, shalat Isya langsung ditunaikan tanpa diberi kesempatan kepada jamaah untuk shalat sunat Rawatib. Setelah shalat Isya, shalat Tarawih juga langsung dilaksanakan.
Jumlah rakaat shalat tarawih di tempat ibadah di Rennes adalah 8. Pelaksanaannya adalah setiap 2 rakaat ada sekali salam. Jumlah rakaat shalat Witir adalah 3 rakat dengan 2 kali salam. Pada rakaat terakhir di shalat Witir biasanya iman akan membaca doa Qunut yang biasanya cukup panjang.
Walaupun sebenarnya pada imam di tempat shalat kota Rennes sebenarnya hafidz atau penghapal Al-Qur’an, tetapi tetap saja mereka tidak membaca ayat-ayat yang terlalu panjang setelah surat Al Fatihah, apalagi di hari sepuluh hari pertama dimana waktu shalat Tarawih dimulai ketika hampir mendekati tengah malam. Sepertinya ini juga toleransi kepada para jamaah supaya shalat tarawih tidak terlalu malam berakhirnya dan jamaah pulang tidak terlalu larut malam. Karena kalau sudah malam tentunya transportasi umum sudah tidak ada lagi dan mengganggu jadwal istrahat jamaah yang akan bekerja esok siang harinya.
Tapi dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, di sepuluh akhir Ramadhan terutama malam ganjil, imam akan membaca surat dan ayat yang sangat panjang. Saya pikir ini bertujuan untuk mendapat keagungan malam lailatul Qadar. Dan pada malam ke dua puluh lima yang dipercayai sebagai malam Lailatul Qadar, shalat Qiyamullail biasanya akan dilakukan sepanjang malam. Setiap delapan rakaat ada jedanya. Pada saat jeda, jemaah bisa minum, berwuduk kembali atau beristirahat. Bahkan pengurus mesjid menyediakan sajian untuk disantap pada malam ke dua puluh lima tersebut. Sehingga pada malam ke dua puluh lima, shalat Qiyamullail dilakukan dari habis Isya sampai menjelang shalat Subuh.

