Pagi itu aku membuka mata pukul 6.30, tepat saat raungan alarm di telepon selularku menggema. Masih tak puas tidur, aku mematikan alarm tersebut, kebiasaan buruk yang tak pernah hilang sejak dahulu. Tiga puluh menit kemudian aku terbangun, menyadari bahwa aku memiliki janji hari ini. Dengan sedikit tergesa-gesa, aku memaksakan diri menyantap sereal plus susu putih, ditambah segelas teh manis hangat untuk mengisi energi pagi itu. Tak lama aku beranjak mandi. Meskipun cuaca Eropa terkenal dingin dan membuat orang malas mandi, hal ini tak pernah berlaku bagiku. Mandi adalah ritual khusus yang menjadi salah satu kegiatan favoritku, dan meninggalkan rumah (atau sekarang dorm) tanpa mandi adalah pantangan besar buatku. Sayangnya, seperti biasa aku mandi terlalu lama sehingga membuatku makin tergesa-gesa menyiapkan keperluan yang akan kubawa pagi itu, terutama bekal untuk makan siang.
Pukul 9 pagi pintuku diketuk, saat berangkat telah tiba. Aku meminta tenggang waktu 15 menit sebelum akhirnya aku dan temanku, Witri, akhirnya meninggalkan dorm menuju Republique. Salah satu pusat halte bis terbesar di kota Rennes. Udara pagi yang dingin menemani kami yang berjalan kaki. Untungnya aku memakai jaket dan syal yang cukup ampuh melindungi. Temperatur musim gugur memang makin lama makin menurun, tak heran pagi itu aku bisa melihat asap keluar dari mulutku saat bicara, persis seperti yang sering kulihat di layar televisi yang menayangkan film-film barat. Kami berjalan kaki lalu dilanjutkan naik Metro untuk menuju Republique, dan saat kami tiba di sana, kebingungan adalah hal pertama yang mendatangi benak kami.
Pagi itu kami berencana mengunjungi Saint Malo, salah satu objek wisata terkenal yang masih berada di kawasan Bretagne. Saint Malo terkenal memiliki pantai yang indah dan merupakan salah satu kawasan yang paling banyak didatangi turis selain Saint Michel di Bretagne. Berdasarkan informasi yang kami terima, kami bisa naik bis menuju Saint Malo dari Republique. Hanya saja, kami tidak tahu bis mana yang harus kami naiki dan di halte mana kami harus menunggu bis tersebut. Maklum saja, di Republique ada belasan halte bis dan puluhan bis dengan berbagai tujuan melewati tempat itu. Bahkan, salah seorang temanku menjuluki Republique sebagai “Blok M-nya Rennes”, mengingatkanku akan salah satu terminal paling ramai di Jakarta tersebut. Setelah berputar dari satu halte ke halte lainnya, aku akhirnya memutuskan untuk bertanya melalui SMS ke Ka Luth, salah satu senior yang telah lama bermukim di Rennes. Solusi yang diperoleh dari Ka Luth, kami sebaiknya naik bis langsung dari pusat bis Illenoo (bis untuk menuju kawasan di sekitar Rennes) yang ada di samping Gare SNCF Rennes. Agak tergesa-gesa kami pun ke Gare naik Metro. Setelah celingak-celinguk sebentar, akhirnya kami menemukan kantor Illenoo tepat di sebelah kanan setelah keluar Gare.
Kami lalu memberanikan diri untuk bertanya pada penjaga tiket.
“Bonjour Madam, je voudrais partir a Saint Malo. Comment pour partir a Saint Malo?,” tanyaku dengan bahasa Prancis yang pastinya ber-grammar salah.
” Vous devez acheter le ticket ici. Est-ce que vous allez partir aujourd’hui?” jawabnya ramah (dan dengan grammar yang tepat, pastinya tidak seperti yang kutulis di sini).
“Oui, on va aller aujourd’hui. A quelle heures?”
“A douze heures trente. Apres midi.”
Kurang lebih, untuk pergi ke Saint Malo bis yang tersedia akan berangkat pukul 12.30, sementara saat ini waktu masih menunjukkan pukul 10.15. Penjaga tiket tersebut lalu memberikan brosur berisi jadwal perjalanan ke Saint Malo pada kami, ternyata kami telah ketinggalan bis ke Saint Malo yang sebelumnya, yakni yang berangkat pada pukul 10.00. Akibatnya, kami harus menunggu bis yang lebih siang. Setelah melihat brosur-brosur yang lain, kami mendapatkan informasi bahwa ada tujuan lain yang bisa dicapai dengan bis yang berangkat lebih awal. Tempat itu adalah Dinard, salah satu kota wisata yang memiliki pantai juga seperti halnya Saint Malo. Hanya saja, Dinard memang tidak seterkenal Saint Malo. Karena bis menuju Dinard akan berangkat pukul 11.00, kami akhirnya memutuskan untuk membeli tiket untuk menuju Dinard. Hal ini dengan pertimbangan, jika kami berangkat ke Saint Malo terlalu siang, maka kami tidak akan puas menjelajahi tempat tersebut. Lagipula, masih banyak kesempatan lain untuk mengunjungi Saint Malo di hari lain.
Setelah 40 menit menunggu, tepat pukul 10.50 bis yang akan kami naiki tiba. Lalu tepat pukul 11.00, bis tersebut berangkat. Dinard, kami datang!!
Perjalanan menuju Dinard berlangsung lancar dan mulus. Seingatku, bis tersebut melewati jalanan yang mirip seperti jalan tol, lalu masuk ke sebuah kota bernama Dinan (kota ini juga Insya Allah akan kukunjungi nanti), berhenti di beberapa halte untuk menurunkan penumpang, sebelum akhirnya tiba di kota Dinard kurang lebih 2 jam kemudian. Aku sempat tertidur di jalan, tapi terbangun saat bis mulai memasuki Dinard. Kami tak tahu persis harus berhenti dimana, namun setelah melewati satu spot dimana di ujung jalan aku melihat sebuah pantai berlaut biru cerah, kami akhirnya berhenti di sana. Pantai itu ternyata bernama Plage de l’Ecluse, salah satu pantai terkenal di Dinard.
Pantai di Dinard ternyata sangat indah. Begitu pula dengan suasana kotanya. Pantainya berpasir putih dan bersih. Air lautnya biru cerah. Burung yang sepertinya adalah burung camar bebas beterbangan dan berjalan di sekitar pantai. Udaranya bersih. Mungkin karena saat itu adalah Musim Gugur, tidak terlalu banyak pengunjung yang datang siang itu. Suasana pantai sepi dan tak seperti layaknya yang kubayangkan akan iklim di pantai, angin pantai di Dinard terasa dingin. Aku tak berani melepas jaket dan syal, meskipun di pantai tentunya itu adalah kostum yang tak sesuai. Tidak apalah, yang penting aku bisa menikmati keindahan pantai di Dinard tanpa kedinginan. Puas berjalan-jalan dan berfoto di sekeliling pantai, kami lalu mencoba berkeliling di sekitar kota. Sebagai hasilnya, kami mendapatkan kartu pos bergambar Dinard. Aku berencana mengirim kartu pos ke Indonesia, hanya saja sampai sekarang memang belum terlaksana.
Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju kantor turisme Dinard. Kami akhirnya mendapatkan peta gratis di sana, lalu sempat bertanya objek wisata mana lagi yang layak untuk dikunjungi. Sebenarnya masih ada 3 pantai lain yang layak dikunjungi, namun berhubung tadi kami sudah puas menyusuri pantai dan menyadari cuaca Autumn tidaklah begitu cocok untuk berjalan terlalu lama di pantai, kami memutuskan untuk mengunjungi Parc port Breton. Aku sendiri sempat mendengar informasi bahwa taman tersebut sangat indah dan sempat meraih kejuaraan berkat penataan bunganya yang indah. Berbekal peta di tangan, kami menyusuri Dinard berjalan kaki, dari Boulevard Wilson menuju Boulevard de la Liberation tempat Parc port Breton berada. Tidak susah sebenarnya mencari jalan tersebut, karena peta menunjukkan kami tinggal berjalan lurus menuju selatan. Di tengah perjalanan, kami sempat melihat Eglise Notre-Dame dimana di depan gereja tersebut terdapat halte bis yang bisa kami gunakan untuk menunggu bis saat pulang nanti. Hati sedikit lega, karena kami tidak usah repot lagi mencari halte bis dalam perjalanan pulang nanti. Kami melanjutkan perjalanan mencari dimanakah gerangan taman tujuan kami berada. Dalam perjalanan pula kami sempat melewati Plage du Prieure dimana pantai tersebut dipenuhi Yatch yang biasa digunakan para orang berduit untuk menghabiskan liburan saat Summer (été) tiba.
Kurang lebih 10 menit kemudian, kami pun tiba di Parc port Breton. Sama halnya seperti pantai yang sebelumnya kami datangi, keadaan taman itu pun sangat sepi. Sepertinya kami memang salah datang di saat musim gugur begini, apalagi di hari Jumat dimana sebagian besar orang masih beraktivitas. Namun tidak apa, kami sempat melihat kolam yang dihuni para bebek dan lapangan berkuda yang sayangnya tidak ada satupun kuda pada saat itu. Kami terus berjalan ke dalam taman, mencari taman bunga yang dimaksud. Namun sayangnya, saat kami tiba di taman bunga, hal yang pertama kali kami lihat adalah ranting-ranting bunga mawar dimana semua bunganya telah berguguran pada saat itu! Tidak salah lagi, kami memang salah musim. Siapa suruh melihat taman bunga pada musim gugur, jelaslah bunganya sudah berguguran semua. Sambil menertawakan kebodohan hari itu, kami tetap mengambil foto dengan berbagai pose di Parc port Breton. Lumayanlah, rumputnya masih hijau dan pepohonan di sana mampu menyejukkan mata.
Selepas itu, kami lalu kembali menuju halte bis di depan Eglise Notre-Dame, sempat kembali berfoto di salah satu gereja terbesar di Dinard tersebut. Tepat pukul 15.55, bis yang akan mengantar kami kembali ke Rennes pun tiba. Akhirnya waktu untuk meninggalkan Dinard pun tiba. Meskipun mungkin kami salah musim untuk berkunjung ke sana, namun Dinard tetap meninggalkan kesan yang indah bagiku. Kota yang cantik dengan pantai yang indah. Terima kasih Dinard, je suis content aujourd’hui
(Anggita Cinditya Mutiara Kusuma)
Diambil dari tautan : Dinard par Anggita Cinditya Mutiara Kusuma


